Sabtu, 05 Juli 2008

Cerita Akhir Senja

Langit masih agak gelap. Bintang-bintang juga masih ada yang berkedip. Udara lagi dingin-dinginnya, masih nyaman untuk sembunyi di balik selimut. Jangkrik-jangkrik masih bernyanyi nina bobok. Saat seperti ini memang sulit melepas gembok-gembok di kelopak mata. Tapi kali ini dia harus benar-benar membuka matanya menyambut hari menyongsong masa depan. Masa peralihan anak SMA menjadi anak kuliahan yang cool memang sedikit berat. Di rumah rasanya emang lebih nyaman, tapi waktu memaksanya untuk hidup lebih mandiri. Hidup dengan aroma “kost-kostan". Anak-anak dari luar jogja emang lebih senang (atau lebih tepatnya dikatakan terpaksa) menjadi anak “kost”. Memang sedikit dari mereka memilih kontrak rumah, atau tinggal bersama saudaranya. Jadi mereka harus beradaptasi dengan habitatnya dan harus sedikit bersabar menghadapi dunia.

Sesaat Deki telah tersadar dari mimpi-mimpinya. Dia duduk sejenak sambil membuang upil-upil di matanya, dan mengelap iler yang sedikt membasahi pipinya. Sejenak melamun membayangkan masa SMA dulu, yang ternyata lebih nikmat. Lalu dia tersadar waktu telah menunjukan pukul lima pagi, dia teringat belum salat subuh. Sesaat itu pula dia bergegas mengambil air wudu dan segera menghadap kiblat. Seusai salat dia kembali melamun, dalam hatinya berkata, “Gue sekarang anak kuliahan sob…!” Dia masih belum percaya telah meninggalkan bangku SMA. Tapi waktu terus berjalan. Sejurus kemudian dia segera mandi. Semua persiapan ospek udah di siapin tiga hari yang lalu di lemarinya. Dari luar kamar mandi tedengar suara Deki bernyanyi, suaranya mirip Delon abis nelen kelereng. Paling tidak nyanyian itu menunjukan hati Deki lagi gembira.

Pukul setengah tujuh dia harus sudah sampe kampus. Sekarang dia udah siap dengan baju lengan panjang putih dan celana panjang hitam. Deki juga harus make kertas yang digantungin di lehernya. Di kertas itu ada tulisan “kadal” dan tepat di bawahnya ada tulisan kecil berbunyi “Deki Prananta”.

Dengan hati gembira dia keluar dari kamarnya, wajahnya tak bisa disembunyikan dari senyumnya yang tersungging pertanda bangga di hatinya. Waktu mau keluar pagar kost, terlihat ibu kostnya sedang menyapu halaman.

“Ospeknya hari minggu ya?” kata ibu kostnya dengan senyum.

Mata Deki terbelalak kaget. Dengan senyum kecut Deki mmenjawab, “Oh…sekarang hari manggu ya bu…!” Gurat malu di mukanya terlihat jelas. “Maaf Bu…terlalu semangat jadi anak kuliahan!!!” Dia berpikir apa jadinya kalo teman-teman kostnya ngeliat dia. “Aduh Bu…jangan bilang sapa-sapa ya Bu! Pantes yang laen belom pada bangun….”

Tiap dia bicara ibu kostnya hanya senyum-senyum melihat muka Deki yang kayak cumi rebus.

“Ya udah ya Bu…permisi.” Kata Deki sambil menuju kamarnya. Dia merasa kaya orang paling bodoh, kenapa Minggu dikira Senin. Dia mengendap-ngendap ke kamarnya, Kakinya jalan jinjit kaya maling ayam nginjek tai bebek (@#@!^%!?)

Setibanya di kamarnya dia hanya bisa duduk termangu di balik pintu, Dalam hatinya bertanya, “Apa gue emang tolol?” Pikirannya menerawang saat teman-temannya ngatain dia “Tolol”. Tapi hati kecilnya selalu memberontak, “Gue nggak tolol! Gue Cuma kurang beruntung.” Tiba-tiba wajah tirus ayahnya melintas dalam benaknya, wajah yang juga mulai terlihat tua. Teringat juga wajah ayahnya yang sering memarahinya, tapi Deki juga tau dialah harapan ayahnya juga harapan keluarganya. Terlintas pula saat ayahnya yang sering marah padanya. Tapi dia juga tau dialah harapan ayahnya juga harapan keluarganya. Juga terlintas saat ayahnya sedikit kecewa, kecewa saat dia tak mampu masuk perguruan tinggi negeri. Perasaannya semakin tertekan semakin merasa dirinya adalah orang tolol. Hatinya merasa sangat bersalah, bersalah telah membuat kecewa ayahnya ibunya juga adiknya, bahkan merasa lebih bersalah dari koruptor yang tak pernah merasa salah.

Tak terasa air matanya meleleh mengalir membasahi pipinya mengingat saat-saat dia selalu menentang kedua orang tuanya. Batapa bodohnya dia selalu durhaka pada ibunya. Dalam ingatannya. Saat itu ibunya membuat sarapan sebelom barangkat ke sekolah dengan lauk tempe goreng (makanan yang nggak dia sukai). Dengan merasa kayak nggak punya dosa dia katakan, “Makanan apa ini?!!! Gimana aku bisa pinter kalo makannya kaya gini!”

Deki melihat raut muka ibunya yang sedikit sedih. Lalu ibunya berkata, “Oh…mau ibu masakin telor?”

“Ah! Nggak usak dah telat! Ibu emang nggak bisa ngurus anak!” kata Deki dengan nada sedikit keras. Sesaat Deki memandang wajah ibunya, air mata ibunya keluar dari sudut matanya. Dengan cueknya dia pergi ngeloyor gitu aja berangkat sekolah.

Penyesalan yang dalam kini sedang berkecamuk di hatinya. Deki membayangkan bagaimana sedihnya perasaan ibunya saat itu. Air mata Deki mengalir lebih deras dari kedua matanya. Tapi kini perasaannya pada ibunya lain, sekarang dia merasa sayang pada ibunya. Perasaan yang baru datang ketika dia jauh dari ibunya. Tiba-tiba dia diserbu rasa kangen pada ibunya. Padahal baru lima hari yang lalu dia dipeluk dan dicium ibunya, saat dia dilepas ayah dan ibunya di bandara untuk berangkat ke Jogja. Sekarang dia juga sangat ingin sarapan dengan tempe goreng buatan ibunya, hal yang tak mungkin lagi dia lakukan saat ini. Bahkan dia juga harus mencari makanan sendiri buat sarapan. Deki harus menunggu satu tahun lagi untuk menikmati masakan ibunya,yaitu saat dia pulang kampung nanti. Maklum biaya pukang kampung ke Medan bisa untuk biaya kost satu tahun di Jogja. Tak seperti dulu dia bisa menikmati semua fasilitas dari orang tuanya kini bisnis ayahnya telah hancur jadi dia harus menghemat pengeluaran. Untung saja dia telah diasuransikan pendidikan sampe lulus S1 nanti. Sehingga, dia masih bisa mengecap pendidikan di bangku kuliah.

Disela tangisnya yang sesengukan, HPnya berbunyi. Diliatnya tulisan di layar ponselnya ‘mamiQuw’. Melihat tulisan itu dia bagai mendapat air di tengah gurun sahara. Dengan sigap dia angkat telepon dari ibunya. Terdengar suara lembut dari speaker

“Halo…Assalamu’alaikum.”

“Halo, Wa’alaikumsalam….” Suaranya bergetar karena tangis yang belom reda.

“Halo Deki kenapa?” sepertinya ibunya mengetahui ada yang berbeda dengan anaknya.

“Nggak Bu, Deki Cuma seneng, Deki kangen Ibu…” dikatakan dengan tangis yang makin terisak-isak. Perasaan di hatinya makin bercampur aduk antara sedih dan seneng. Air matanya makin deras tak terbendung.

Sejenak tak ada pembicaraan diantara mereks berdua, mereka saling diam. Ibunya hanya mendengar suara isak tangis Deki.

“Halo…Deki kenapa? Kamu baik-baik aja kan?”

“Iya bu…Deki baik-baik aja kok, Deki seneng banget ibu mau nelepon. Deki kangen Ibu nggak? Deki kok udah kangen Ibu ya?” suaranya terdengar manja.Deki semakin sayang pada ibunya. Bagaimana tidak, disaat dia membutuhkan kasih sayang seorang ibu, ibunya sangat memahaminya. Sebegitu kuat ikatan rasa sayang seorang ibu pada anaknya. Rasa sayang yang tak akan putus sepanjang masa.

“Ya iyalah…ibu mana yang nggak kangen ditinggal anaknya merantau?!” kata ibunya bernada menghibur. “Gimana di Jogja? Betahkah?” Ketika itu ibu mulai menyadari anaknya tercinta mulai memahami kasih sayang seorang ibu. Tak terasa air matanya ikut mangalir terbawa suasana. Perasaannya sangat bahagia, rasa yang tak pernah ibu rasakan dulu. Ada sedikit rasa bangga pada anaknya, meski Deki belom menunjukan prestasinya.

“Deki seneng kok Bu di jogja. Sekarang belom ada masalah, Cuma Deki jadi pengen makan masakan ibu lagi, pengen makan tempe goreng buatan ibu.”

tasih wonten terusanipun...